...

Flashback perjalanan Johann Zarco.. Putus dengan KTM hingga 'mendepak' Karel Abraham.


Hai fellas. Udah lama bener ya kagak ngepost lagi wkwk. Yaudah gapapa kita langsung to the point aja ya.
Akhir-akhir ini tepatnya pasca GP Valencia beres, yang menandakan pula bahwasannya MotoGP musim 2019 telah berakhir, dihebohkan dengan drama-drama yang makin hari makin membingungkan tapi juga makin mengasyikkan untuk di ikuti. Sebenernya drama tersebut udah berlangsung dari semenjak GP Motegi 2019. Mulai dari resign nya Zarco dari KTM sebelum musim 2019 berakhir, pensiunnya Lorenzo, hingga HRC yang memasukkan Alex Marquez ke dalam tim nya.

Dari sekian banyak drama, yang paling hot sih ya drama si Johann Zarco yang setelah musim 2019 ini berakhir, doi justru malah seperti luntang-lantung gak punya tim untuk berlabuh di musim 2020 nanti. Asal muasalnya karena seperti yang udah saya bilang tadi. Si Zarco tuh masih punya ikatan kontrak ama KTM Factory ampe taun 2020. Tapi karena si Zarco ini ngerasa dirinya gabisa adaptif secara cepat dan keburu frustasi duluan sama mesin V4 nya KTM dan sasis trellisnya yang katanya susah dikendaliin sehingga dia selalu berada di barisan tengah ke bawah, makanya dia memutuskan untuk 'pensiun' dari KTM yang waktu itu masih tersisa 3 race lagi sampe seri finale di Valencia. Dengan berat hati pun pihak KTM melepaskan Johann Zarco dan memutuskan untuk 'merumahkan' nya sebagai hukuman. Gak berselang lama kemudian, dateng lah tawaran dari LCR Honda kepada Zarco untuk menjadi rider sementara pengganti Nakagami yang harus absen di sisa 3 race di musim 2019 karena beres melakukan operasi bahu.


Disamping datengnya tawaran dari LCR Honda, datang lah juga tawaran dari Yamaha namun bukan sebagai pembalap tetap, melainakan sebagai test rider resmi mereka dengan jatah wild card 3 kali di musim 2020 nanti. Setelah menimbang sana-menimbang sini, dibuatlah keputusan kalau Zarco pada akhirnya lebih memilih LCR Honda untuk menggantikan Nakagami di 3 race terakhir ketimbang tawaran dari Yamaha sebagai test rider official mereka. Alasan nya? Karena Zarco ini udah ngincer banget seat di HRC yang bakal ditinggalkan oleh Jorge Lorenzo, padahal kala itu Lorenzo belum ngumumin pensiun loh. Mungkin di pikirannya gini, "kalau gue sekarang nerima tawaran dari LCR team, mungkin gue bakal punya jatah nih buat masuk HRC buat ngegannti Lorenzo. Wong dia keknya udah mau pensiun juga."

Lorenzo mengumumkan pensiunnya pasca GP sepang. Semua mata dan media langsung tertuju pada Johann Zarco yang bisa dibilang merupakan kandidat terkuat pengganti Lorenzo, disamping terdapat nama Cal Crutchlow juga sebagai kandidat terkuat pengganti Lorenzo. Namun siapa menyangka, HRC justru lebih memilih juara dunia Moto2 2019, Alex Marquez yang merupakan adik kandung dari Marc Marquez. Alasannya? Kalau dari pihak HRC sih bilangnya karena Alex merupakan juara dunia Moto2 dan bukan karena ada embel-embel nama Marquez di belakangnya (jadi gamau kalau orang-orang nyangkanya ada politik keluarga, dan bahkan politik negara. Yoi, spanyol). Percaya kah dengan omongan HRC? Wkwkwk NO! Menurut opini, HRC memilih Alex lebih untuk membuat Marc merasa selalu nyaman berada di HRC team dan meminimalisir kemungkinan hengkangnya Marc dari kubu HRC. Karena memang cita-cita Marc dari dulu adalah bahwasannya ia ingin suatu saat bisa berbagi garasi dengan adiknya. Dan "suatu saat" itu pun pada akhirnya datang. Selamat ya Marc wkwk. Ketambah, ya itung-itung balas budi lah buat si Marc. Masa aja udah juara dunia 6 kali  sama Honda di kelas MotoGP, ga bisa ngabulin permintaannya yang selama ini dia impikan? Buat pabrikan sultan mah kiceup



Oke lanjut lagi ke si Zarco. Karena waktu itu dia lebih memilih LCR daripada Yamaha, otomatis Yamaha pun sudah menutup pintu buat si Johann sebagai test rider mereka. 1 kesempatan ilang. 
Eh taunya ga lama seudah Lorenzo pensiun, HRC kagak ngontrak dia. Malah lebih milih si Alex. Yowes. Mau gimana lagi. Orang dari awal aja gapernah ada perjanjian tertulis juga kok antara HRC sama Johann. Eneg dong udah ditolak sama dua pabrikan. 2 kesempatan ilang. Johann setelah mengetahui HRC gak jadi ngontrak dia udah mulai agak frustasi lagi nih. Masalahnya, semua slot di tim MotoGP untuk tahun 2020 nanti udah pada penuh cuy, termasuk di KTM karena pasca dia putus ama KTM, pabrikan austria tersebut langsung mencari penggantinya. Jadi jelas-jelas udah gaada tim untuk berlabuh yak. 

Ga lama kemudian dateng lah tawaran dari Marc VDS Moto2 kepada Zarco. Yoi men, dia ditawarin buat balapan full satu musim, tapi bukan di MotoGP melainkan di Moto2. Turun kelas dong? Bisa dibilang begitu sih. Tapi mau gimana lagi orang di MotoGP udah pada penuh. Tapi jangan salah. Waktu tawaran dari Marc VDS masuk, dia juga dapet tawaran dari Avintia Team di MotoGP. Lah? Bukannya tadi katanya udah penuh ya seat di MotoGP? Nah ini yang menarik. 

Awalnya Zarco pun tidak ingin bergabung dengan tim tersebut karena beranggapan kalau misal dia masuk ke Tim Avintia, sama saja artinya kaya dia di KTM kemaren. Gak dapet motor yang kompetitif. Dia justru bilang "lebih baik saya ke Moto2 daripada harus masuk ke Avintia Team". Kurang lebih gitu. Secara, Avintia selama ini kan bukan tim satelit Ducati, melainkan tim promotor/konsumen lah istilahnya. Yang merupakan tim satelit Ducati adalah Pramac Racing. Tapi, petinggi-petinggi Ducati pun turun dan meyakinkan Zarco, bahwa di tahun 2020, Avintia akan menjadi tim satelit Ducati dan akan mendapatkan perlakuan yang 'lebih layak' ketimbang tahun-tahun sebelumnya, sehingga macam supply part terbaru pun akan diberikan secapatnya. Serta, akan mendapatkan paket motor yang bagus, yaitu Ducati Desmosedici GP 19. Apakah berhasil meluluhkan hati Zarco? Yap berhasil. Namun dengan satu konsekuensi.. 


Yaitu 'pemecatan' atau mempensiunkan secara paksa salah satu pebalap yang sudah terdaftar untuk balap di Avintia racing pada tahun 2020. Siapakah pembalap yang tersingkir? Jawabannya adalah Karel Abraham. Dengan setujunya Zarco untuk pindah ke Avintia team pada tahun 2020, hal tersebut harus di lakukan. Karena satu tim hanya diperbolehkan memiliki 2 pembalap saja. Namun, apakah memecat Karel Abraham merupakan tindakan yang tepat?? 


Menururt opini pribadi sih ya, untuk tim sekelas Avintia racing yang boleh dibilang selama ini sebagian kecil dana nya di danai oleh kantong tebal milik sultan Karel Abraham (disamping juga kantong tebal Tito Rabat), merupakan tindakan yang amat sangat tidak professional. Mirisnya lagi, pemecatan terhadap KA17 itu dilakukan melalui E-mail!! Wow! Bayankgan cuy. Mau ga sakit hati gimana coba. Udah taken kontrak sampe akhir 2020, tapi belum juga musim berjalan udah di pecat. Dipecatnya pun lewat email. Gokil emang ya. Makanya saking kesal nya, Abraham sampe bilang kalau manajer dari Avintia tim udah mati. Mungkin mati disini itu hatinya mati ya. Udah kagak punya perasaan. Makanya, mengeathui hal tersebut, melalui akun resmi sirkuit Brno, Karel Abraham mengumumkan pensiunnya dari MotoGP. Suatu perjalanan yang cukup tragis memang. 

Nah, pertanyaan selanjutnya, apakah hal ini diketahui oleh dorna? Atau apakah ada peran dorna di dalamnya? 

Banyak teori konspirasi mulai bermunculan yang memang kebenarannya masih di ragukan. Pada intinya sih teori konspirasi tersebut menyebutkan bahwa dorna selaku penyelanggara punya misi sendiri. Apa misinya? Menghadirkan penonton sebanyak-banyaknya. Saat ini penonton yang sedang antusias sama MotoGP adalah negara Perancis, which is Zarco merupakan orang sana. Logis dong, dengan menyelamatkan Zarco agar tetap berada di kelas MotoGP, penonton dari negara tersebut bakal terus-terusan nonton, yang akhirnya cuan pun terkumpul wkwk. Jadi ya pada akhirnya, ujung-ujungnya duit. Bagaimana dengan Fabio Quartararo? Well, dia emang orang Perancis, tapi doi lama tinggal di Spanyol sob. Gak kaya si Zarco yang prancis banget. Makanya Zarco lebih ngejual ketimbang si Fabio itu. 

Begitulah sob teori konspirasinya. Namanya juga kosnpirasi ya. Selalu saja meyakinkan dan menarik ketika di baca. Intinya sih kita gausah berperasangka buruk dulu ke pihak penyelanggara MotoGP. Harus tetep support supaya olahraga ini tetap digemari dan berjalan secara kondusif. 

Paling segini dulu aja ya artikel intermezzo nya. Buset intermezzo panjang bener yak wkwk. Yaudah gapapa. Buat pemanasan ngetik artikel-artikel yang baru. Semoga bermanfaat ya guys.