...

Mengapa Honda Begitu Perkasa dalam Marketshare nya?

 Hai fellas. Kali ini kita coba akan berbicara sedikit mengenai market share yang dialami oleh Honda yang bisa dibilang begitu fantastis sehingga tidak bisa tertandingi oleh rival-rival sesama pabrikan Jepang.
Yap. Berkaca pada data AISI bulan ke empat di tahun 2018 ini, sepertinya Honda memang sedang benar-benar berada diatas angin. Yap, keberhasilan mereka dalam industri roda dua di tanah air boleh dibilang sedang berada di puncaknya. Suka tidak suka, kita harus mengakuinya. Namun pastinya, keberhasilan Honda tersebut tidak didapat mereka secara instant. Meskipun memang sudah menjadi perusahaan roda dua Jepang yang telah ada di Indonesia sejak tahun 1971 dan sudah mempunyai 'nama' di masyarakat, tidak menjadikannya pabrikan yang serta merta langsung sukses pada awalnya.


Salah satu contohnya yaitu ketika Honda kala itu mencoba merongrongi pasar motor matic yang dipelopori oleh Yamaha Mio. Pada awalnya mereka mencoba untuk membuat Honda Vario untuk menjungkalkan -atau paling tidak- menggerogoti pasar Matic saat itu. Namun mengalami kegagalan. Meskipun penjualannya tidak terpuruk, namun tidak mampu mengalahkan penjualan Mio yang sangat digjaya waktu itu. Kemudian di tahun 2008, merka terus mencoba untuk berinovasi dan menelurkan satu produk yang lebih baru untuk menghadapi Yamaha Mio. Yaitu Honda Beat.

Memang pada awalnya masyarakt masih belum percaya terhadap kualitas produk matic dari Honda ini, namun seiring berjalannya waktu dan konsisten nya mereka dalam membuat motor matic 100cc yang irit, vibrasi mesin yang halus, dan memiliki banyak fitur (pada jamannya dan kalau di komparasikan dengan mio saat itu) membuat masyarakt mulai melirik skuter matc dari Honda tersebut. Hasilnya saat ini bagaimana? Bisa dilihat sendiri lah ya


Contoh kedua yaitu pada segmen sport. Apalagi kalau bukan CB150R dengan Vixion. Sepertinya kasus yang sama akan terulang. Ketika Honda berusaha sekuat tenaga untuk nyemplung di kelas motor naked sport 150cc LC waktu itu yang masih hanya diisi oleh Vixion, mereka mencoba untuk 'meniru' produk Vixion saat itu. Hampir semua part mereka ikuti seperti ban yang masih berukuran mungil, body yang khas tahun 2007 an dan fitur-fitur lainnya. Padahal itu udah tahun 2012 dan pada saat itu juga Yamaha melakukan facelift pada vixion nya. Hasilnya? Yap sesuai prediksi. Vixion semakin tak tertandingi, pun sebaliknya. CB150R makin terpuruk di pasar.

Kemudian Honda 'introspeksi' diri dan melakukan revisi secara menyeluruh terhdap produknya. Terutama dari sisi desain. Mereka melihat, menganalisis, dan mau belajar dengan selera desain pasar sepeda motor di Indonesia. Hasil yang didapat yaitu untuk sebuah sport naked 150cc, yang menjadi concern utama adalah body yang gagah, mengalir, ban yang gambot, 6 percepatan, kencang, dan irit. Akhirnya dari proses belajar itulah lahir sebuah motor naked dari Honda yang mereka namai dengan Honda CB150R generasi ke dua, yang merupakan loncatan dahsyat sebauh desain hanya dalam waktu kurang lebih 3 tahun. Memang pada awal kehadirannya, CB150R -seperti biasa- belum mampu menggeser kedigjayaan Vixion Advanced pada saat itu. Meskipun secara angka distribusi sudah mepet-mepet dan mendekati naked bike dari Yamaha tersebut, namun secara jumlah, penjualannya masih dibawah Vixion.

Dan pada akhirnya, Vixion advance yang saat itu sudah berumur 5 tahun pun mengalami sebuah rombakan desain yang sayangnya bukan menjadi sebuah batu loncatan desain yang fenomenal (seperti yang mereka lakukan 5 tahun lalu dari vixion gen 2 ke NVA) namun malah menjadi sebuah blunder yang diciptakan oleh Yamaha sendiri. Mereka seolah-olah hanya mencari aman dengan mulai digjaya nya CB150R. Mereka tidak berani unuk 'keluar dari zona nyaman'. Kalau ingat pepatah "usaha tidak menghianati hasil". Maka itulah yang boleh di dapat dari Yamaha. Usaha mereka mungkin tidak se besar usaha yang dilakukan oleh Honda ketika meluncurkan CB nya. Dan hasilnya pun sangat mengecawakan, baik untuk Yamaha nya sendiri ataupun bagi sebagian besar biker yang sudah sejak lama menunggu kehadiran dari Yamaha Vixion. Untuk masalah ini kita bahas di artikel terpisah aja ya. Supaya lebih jos gandos wkwk. Namun yang pasti, usaha mereka (bukannya sia-sia) namun hanya kurang 'effort' aja untuk mempertahankan 'baby' mereka dari gempuran musuh.


Lalu yang masih hangat-hangatnya (masih dari Honda dan Yamaha) adalah kondisi yang sedang menyoroti market skutik premium 150 cc antara Nmax dan PCX. Kembali, Honda dengan sabarnya mengamati dan menunggu pasar gemuk yang waktu itu hanya diisi oleh Yamaha Nmax. Mereka mencari kelemahan dan kekurangan dari kompetitor mereka, lalu mengaplikasikannya pada sebuah produk yang dibenturkan secara langsung dengan kompetitor. Mungkin saat ini belum terliaht begitu besar ya hasil dari AHM meluncurkan PCX nya karena memang baru 4 bulan sejak mereka merilisnya secara resmi ke publik. Namun penetrasi mereka tidak boleh dianggap remeh. Dari Data AISI bulan April, PCX berhasil terjual di kisaran 17 ribuan unit. Catet! 17 RIBU unit. Itu merupakan debut pertama mereka. Jangan bandingkan dengan NMax yang waktu itu melakukan debut pertama nya di bulan Februari 2015. Pada saat itu matic bongsor memang belum menjadi tren dan masih merupakan market blue ocean. Beda dengan sekarang yang hampir semua orang sudah tahu tentang matic bongsor.
Balik lagi ke penjualan PCX di debut pertama mereka yang sudah menyentuh angka 17 an ribu, tidak bisa dibayangkan kalau hal tersebut sudah 5 bulan kemudian. Angka 17 ribu itu pun karena masih banyak yang inden dan belum kebagian motornya. Gak kebayang kan kalau nantinya AHM sudah bener-bener pol dalam menggenjot produksi PCX nya?

Makanya, Yamaha memang bener-bener harus berbenah dan plis kali ini agak serius dalam menggarap motor facelift yang udah dimasukin kompetitor. Jangan terlalu main aman. Ya kecuali kalau memang produk mereka mau berakhir layaknya Mio dan Vixion yang sekarang sudah mulai babak belur dan ga sanggup melawan tekanan dari produk-produk Honda.

Pasti bertanya-tanya, kesimpulan dari artikel panjang lebar ini apa? Beberapa tulisan yang di Bold datas merupakan jawaban mengapa Honda saat ini bisa begitu perkasa dalam market share nya. Mungkin ketika mereka sudah menguasai pasar, ke konsistenan mereka harus di pertanyakan karena jujur saja banyak sekali part yang mengalami penurunan kualitas dari gen sebelumnya. Contoh kecilnya banget yaitu busa jok pada produk-produk Honda yang makin kesini semakin keras. Misal jok beat fi dan jok all new beat (2016). Tau sendiri lah yaa perbedaannya wkwk. Mengejar benefit kah? Hal yang lumrah kah dari semua pabrikan? Don't know. Cuman harusnya ketika mereka sudah menuai kesuksesan, jangan membuat konsumen kapok dan tidak mau mendengarkan masukan. Karena ketika ada produk sejenis dengan harga yang sama atau bahkan lebih murah, konsumen akan tergerak untuk pergi ke produk sebelah. #ekhem lirik Suzuki Nex II